Vicaksana Samarpita Chatrah: Dua Belas Bulan

By Rayfienta G - 12:00 AM

2 September 2017


Untukmu,
Vicaksana Samarpita Chatrah.

Tepat dua belas bulan yang lalu,
jantung usang yang melekat pada dada kita tak lagi tersemat.

Dua belas bulan yang lalu, rompi abu-abu terselimutkan pada jiwa yang baru.

Dua belas bulan yang lalu,
doa-doa terpanjat dari mulut orang-orang yang mengelilingi kita.

Dua belas bulan yang lalu,
kita berikrar untuk menjadi Satu,

Satu yang terbaik untuk Enam Satu.




Ada gelora baru yang terpancar dari diri, untuk merajut mimpi-mimpi agar ia kukuh menjadi kenyataan, kelak.

Satu bulan melihat,
Terhempas lembaran agar kita bisa melihat lebih dekat,
dekat,
dan dekat,
dengan setiap apapun itu yang baru.

Dua bulan mendengar,
Ada bisik-bisik yang ingin membuyarkan asa, namun kita tahu bahwa itulah awal yang menyambut. 
Sementara kita teguh mempersembahkan yang pertama bagi penerang dalam gulita.

Tiga bulan merasa,
Gerak-gerik kasar menyisakan luka-luka kecil, selepas kita merangkul bilik-bilik kekeluargaan.

Empat bulan meraba,
Kelanjutan dari kisah perjalanan berlanjut dalam seruan tahun baru, membawa kerinduan untuk berkumpul kembali lagi.

Lima bulan mengenal,
Saatnya melayarkan bahtera yang pertama ke hadapan dunia,
dan mengulurkan rangkulan yang kedua.

Enam bulan menggenggam,
Ada lega karena yang terbesar telah lahir, diiringi sorak-sorai sebagai perwujudan terkabulnya mimpi.

Tujuh bulan bergerak,
Hadir yang termanis dalam nuansa biru dan merah jambu.
Hadir pula prajurit-prajurit kecil untuk kita temani.

Delapan bulan merangkak,
Menghantarkan kakak menuju gelaran hidup baru,
Lalu, Sang Ksatria gagah berani membukakan satu dari dua pintu paling dinanti.

Sembilan bulan berdiri,
Bulan penuh berkah menjadi sasana penjaga harmoni.
  
Sepuluh bulan berpegang,
Pintu kedua terbuka bersama dengan Bidadari yang lama dinanti, yang kedatangannya merekahkan senyum pada wajah-wajah yang pernah berharap.

Sebelas bulan berjalan,
Tertanam sedikit demi sedikit bibit kesungguhan bagi prajurit-prajurit kecil dan penerus mereka, agar nanti ia bersemi,
Sedang kita berseri dalam balutan rona Merah Putih.

Dua belas bulan berlari,
adalah aku dan kamu saat ini.

Dengan rompi yang semakin usang dan hanya menyisakan sedikit dari apa yang telah lalu.

Esok akan jadi warisan terakhir kita yang dapat dunia nikmati.

Hanya menghitung hari, sampai waktunya dimana apapun yang dalam genggam, tak akan ada lagi. 

Prajurit-prajurit kecil yang selama ini mengikuti, akan segera menyusul, menukar jantung mereka dengan si abu-abu.

Menjadikan kita larut sebagai cerita masa lalu.



Untukmu,
Vicaksana Samarpita Chatrah.

Terima kasih atas dua belas bulan yang penuh arti.

Terima kasih atas segala memori.

Terima kasih atas pengorbanan yang kalian beri.

Terima kasih atas kerja keras yang tiada henti.

Terima kasih atas ketegaran dalam tenang-derasnya arus yang kita lewati. 


Dan untukmu,
Vicaksana Samarpita Chatrah-ku.

Terima kasih telah menjadi insan-insan yang arif dan berdedikasi tinggi.

Doaku untuk kalian, selalu.


- 41
2016 JAYA!

  • Share:

You Might Also Like

0 comments